Sang Ramah Di Pulau Jawa, Yogyakarta …!!!
Akankah ini
terbaca…???
Sang Ramah di Pulau
Jawa,Yogyakarta
Kota indah terlahir dengan seni dan
budaya, tutur kata yang sopan dan santun serta ramah, menghiasi hampir di
seluruh sudut mata
Bagiku itulah gambaran si kota penuh makna, Yogyakarta …!!!
Sayang, belum sempat aku menghampirimu, menapakkan kakiku
di jalanmu, merasakan hangatnya senyuman keakraban dari orang-orang di kotamu.
Dulu, kesempatan itu pernah ada. Sayang, ku harus mengalah
demi ibuku yang ingin sekali membeli kulkas baru, sebuah benda mati yang sampai
saat ini masih dan akan terus kami nikmati.
Ironis memang, harapan akan bertemu Jogya harus ditunda
entah untuk berapa lama demi si benda mati yang membeku itu.
Kesempatan datang lagi, Tuhan sedang
berbaik hati. Tak sabar melihat apa yang bisa dilakukan penaku ini untuk
melukiskanmu, si kota Jogya.
Tapi untuk ketiga kalinya,
harap maklum, dengan berat hati, kata “sayang” harus ku tulis lagi. Tapi kali
ini bukan demi si benda mati. Sesuatu telah terjadi, 27 Mei 2006, pukul 05.39, gempa melanda Jogya.
Aku bisa bilang apa…!!!
Benda mati berbentuk persegi
tapi bisa berbunyi yang kunamakan televisi, memberikan berita pasti tentang
musibah yang terjadi.
Sedih…!!! Belum pernah mati
hati seperti ini.
Apa kata penaku nanti,
seandainya dia tahu keinginannya untuk melukiskan kota Jogya ke dalam kata-kata
indah harus tertunda.
Terasa… dia mulai kecewa…
Benda mati berbentuk persegi
tapi bisa berbunyi yang kunamakan televisi, masih terus beraksi, 24 jam sehari beroperasi tiada
henti.
Kabar duka dari Jogya…, ku hanya
bisa mendengar beritanya saja.
Melihat… ku benar-benar tak
kuasa.
Air mataku jatuh lagi untuk hal yang memang seharusnya
kutangisi
Kenapa kota itu…???
Bagaimana mungkin Jogya yang terkena gempa,
kota itu sudah terlalu tua untuk menderita dan tertimpa musibah.
Aduh, Gusti Allah…!!! Sang Ramah di Pulau Jawa, Yogyakarta …!!!
Ingin kutukarkan kulkasku yang membeku itu dengan setitik pijar dihatiMu,
Jikalau itu mampu
membuat kotaku kembali seperti dulu.
Ku buat benda mati berbentuk persegi tapi bisa berbunyi bernama televisi
berhenti beraksi,
Berhenti mengabari hal-hal sedih dan yang tak terobati…
Sodara…!!! Sang Ramah di Pulau Jawa, Yogyakarta…!!!
Masih akankah kau menjadi ramah setelah tertimpa musibah…???
Masih akan terang kah jalanmu setelah gelap menyelimuti kotamu…???
Masih bisa berpijak kah kakimu di tanah yang sudah goyah,
berjalan seperti biasa pun kau tak bisa…
Sang Ramah di Pulau
Jawa, Yogyakarta …!!!
Hidup ini kumpulan kata-kata yang harus dijalani,
Rangkai sendiri kata-kata hidup berarti dalam diri,
Buat semua
benar-benar terjadi,
Jangan seperti meniti tali untaian mimpi.
Yang terjadi tak perlu disesali
Mulailah lagi hidup ini, seperti pagi mengawali hari.
Remind U to Remember…
Anak Kampoeng can’t find way to go home
Deep Respect 4 Letto n Jogya
SEMANGAT
Palembang, 29 Mei ‘07